Senin, 05 Mei 2025

Reaksi Uji Lipid dan Penentuan Bilangan Iodium

I. Tujuan Percobaan            :

1. Mengetahui tingkat kelarutan minyak kelapa sawit dalam eter, kloroform, dan alkohol secara praktikum

2. Mengetahui besarnya angka bilangan iodium pada sampel minyak kelapa sawit

3.  Mengetahui perbedaan jenuh dan tidaknya minyak sawit 

II. Pendahuluan        :

Lipid adalah unsur makanan yang penting tidak hanya karena nilai energinya yang tinggi tetapi juga karena vitamin yang larut dalam bentuk lemak essensial yang dikandung dalam lemak makanan alam. Dalam tubuh, lemak berfungsi sebagai sumber energi efisien secara langsung dan secara potensial, bila disimpan dalam jaringan adiposa. Lipid berfungsi sebagai penyekat panas dalam jaringan subkutan dan sekeliling gorgan tertentu dan bekerja sebagai penyekat listrik (electrical insulator) yang memungkinkan perambatan cepat gelombang depolarisasi sepanjang syaraf bermielin. (Siregar dan makmur, 2020)

Lipid

    Lipid menyediakan
sumber energi utama dalam makanan.
Lipid
juga menyediakan asam dan nutrisi esensial dan
fungsi sebagai vitamin terlarut dalam
lipid.
Lipid adalah salah satu dari
biologi yang diperlukan untuk tubuh manusia.
Lipid memiliki
banyak variasi seperti trigliserol dan lipoprotein.
Trigliserol adalah sumber kalori di dalam tubuh dengan nilai energi tinggi
.
Lipid biasanya mengandung asam lemak dan
turunan.
Asam lemak adalah
hidrokarbon yang berasal dari oksidasi rendah.
Lipid relatif tidak larut pada
dalam air dan dapat dilarutkan dalam pelarut non terpolarisasi seperti eter dan
kloroformer.
Lipid biasanya terdiri dari lipid sederhana dan kompleks lipid.
Lipid merupakan ester yang terbentuk dari
asam lemak dengan beberapa gugus alkohol.
Misalnya, lemak
, adalah bentuk asam lemak dengan gliserol dan
minyak adalah lemak cair.
Lipid kompleks adalah ester yang terbentuk dari
asam lemak yang mengandung kelompok lain yang diproduksi dalam
kelompok alkohol atau asam lemak.
(Suherman dkk.
, 2024 ).

Lemak dan Minyak

    Lipid sederhana dibedakan menjadi lemak (fat) dan minyak (oil). Lemak adalah ester dari asamasam lemak dengan gliserol. Minyak merupakan bentuk liquid dari lemak. Berbagai senyawaan ini dikategorikan ke dalam kelompok lipid bukan karena kemiripan struktur kimia tetapi karena kemiripan sifat fisik, yaitu: (1) sukar larut dalam air dan (2) larut dalam pelarut non polar seperti eter dan kloroform . Lemak disimpan dalam jaringan adiposa dimana ia dapat berperan sebagai insulator atau selubung panas pada jaringan subcutaneous dan pelindung pada organ-organ tertentu (Nirwana dkk., 2023).
    Sifat fisik lipid tubuh tergantung pada panjang rantai karbon dan derajat ketidak jenuhan asam lemak pembentuknya. Jadi titik lebur asam lemak yang mempunyai jumlah karbon genap bertambah dengan panjang rantai dan berkurang sesuai dengan ketidak jenuhannya. (Siregar dan makmur, 2020).
    Warna minyak dan lemak dipengaruhi oleh keberadaan pigmen alami seperti karoten, xantofil, dan klorofil. Sebagai contoh, minyak sawit memiliki warna kuning kemerahan karena tingginya kandungan karoten, sementara minyak kelapa cenderung berwarna kuning pucat akibat rendahnya pigmen. Pigmen seperti karoten, xantofil, dan klorofil tidak hanya mempengaruhi warna tetapi juga memiliki peran sebagai antioksidan alami. Perbedaan warna ini dapat menjadi indikator kualitas dan kemurnian produk. Kandungan pigmen yang tinggi, seperti karoten dalam minyak sawit, dapat meningkatkan stabilitas oksidatif minyak, sehingga lebih tahan terhadap proses ketengikan. (Khafiza dkk., 2025)

Bilangan Iodium

    Uji lipid dalam penelitian ini meliputi uji ketidakjenuhan dan uji akrolein. Derajat ketidakjenuhan dinyatakan dengan bilangan iodin. Semakin besar bilangan iodin semakin tinggi ketidakjenuhannya . Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji merupakan asam lemak jenuh atau asam lemak tidak jenuh. Lipid yang mengandung asam lemak tak jenuh bersifat cair pada suhu kamar. Asam lemak tidak jenuh ini biasa disebut minyak. Dari segi gizinya, asam lemak mengandung energi tinggi (menghasikan banyak ATP). Karena itu, kebutuhan lemak dalam pangan diperlukan. Diet rendah lemak dilakukan untuk menurunkan asupan energi dari makanan. Asam lemak tak jenuh dianggap bernilai gizi lebih baik karena lebih reaktif dan merupakan antioksidan di dalam tubuh.
(Fitriana dkk., 2019)

III. Metode Penelitian :

    Penelitian dilakukan pada April 2025 di Laboratorium Kimia, Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Medan (UNIMED).

A. ALAT DAN BAHAN

ALAT

NO.

NAMA ALAT

UKURAN

JUMLAH

1

Tabung Reaksi

-

3 Buah

2

Rak Tabung Reaksi

-

1 Buah

3

Pipet Tetes

-

5 Buah

4

Beaker Glass

250 mL

1 Buah

5

Buret

50 mL

1 Buah

6

Erlenmeyer

250 mL

2 Buah

7

Statif dan Klem

-

1 Pasang

8

Gelas Ukur

25 mL

1 Buah

BAHAN

NO

NAMA BAHAN

RUMUS KIMIA

KONSENTRASI

WUJUD

WARNA

JUMLAH

1

Minyak Sawit

C5H5(OCOR)3

-

Cair

Kuning

35 Tetes

2

Larutan Natrium Tiosulfat

Na2S2O3

0,1 N

Cair

Tidak Berwarna

38,2 mL

3

Larutan Pati

(C6H10O5)n

1 %

Cair

Tidak Berwarna

4 mL

4

Larutan Kalium Iodida

KI

15 %

Cair

Tidak Berwarna

20 mL

5

Pereaksi Iod Hanus

IBr (CH3COOH)

-

Cair

Merah Kecoklatan

50 mL

6

Aquades

H2O

-

Cair

Tidak Berwarna

200 mL

7

Kloroform

CHCl3

-

Cair

Tidak Berwarna

22 mL

8

Eter

R-O-R

-

Cair

Tidak Berwarna

2 mL

9

Alkohol (Etanol)

C2H5OH

-

Cair

Tidak Berwarna

2 mL

B. PROSEDUR KERJA

Uji Kelarutan Lemak atau Minyak:

1. Dimasukkan berturut-turut 2 mL eter, kloroform, dan alkohol ke dalam 3 buah tabung reaksi. 

2. Dimasukkan sedikit minyak sawit ke dalam setiap tabung reaksi, dikocok isi tabung kuat-kuat, dan diperhatikan kelarutannya.

 Penentuan Bilangan Iodium:

1. Dimasukkan 0,25 mL sampel minyak (Minyak kelapa sawit) ke dalam erlenmeyer ukuran 250 mL

1. Ditambahkan 10 mL kloroform, kocok hingga larut. 

2. Ditambahkan 25 mL pereaksi iothanus dan didiamkan di tempat gelap selama 30 menit. 

3. Ditambahkan 10 mL larutan KI 15%, aduk hingga rata. 

4. Ditambahkan 100 mL air dingin untuk mencuci sisa iodium yang terdapat pada tutup Erlenmeyer. 

5. Dititrasi iodiumnya dengan larutan Na₂S₂O₃ 0,1 N hingga warna kuning dari larutan hilang. 

6. Ditambahkan 2 mL larutan pati 1% sebagai indikator, dengan segera diteruskan titrasi sampai warna biru hilang. 

7. Ditutup Erlenmeyer jika titik akhir titrasi hampir tercapai dan dikocok kuat-kuat hingga semua iodium dapat diikat oleh KI. 

8. Diteruskan titrasi sampai tercapai titik akhir. Dilakukan titrasi untuk blanko dengan cara yang sama seperti di atas. Ditentukan bilangan iodium dari sampel yang diuji.

 

IV. Hasil Pengamatan

A. Tabel Hasil Pengamatan


PERLAKUAN

 


HASIL

1. Uji Kelarutan Lemak/Minyak

 

vDiambil 2 mL Eter, Kloroform, dan Alkohol masukkan ke dalam masing masing tabung reaksi

vDitambahkan sampel minyak ke dalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 10 tetes

vKemudian dikocok dan dilihat kelarutannya

 

 

Ø2 mL eter + 10 tetes sampel minyak (larut)


Ø2 mL kloroform + 10 tetes sampel minyak (larut)

Ø2 mL alkohol + 10 tetes sampel minyak (tidak larut)

2. Penentuan Bilangan Iod

 

v0,25 mL sampel minyak sawit + 10 mL CHCl₃

vLarutan ditambah 25 mL Pereaksi iod.Hanus didiamkan selama 30menit diruang gelap

vDitambah lgi dengan Ki 15%

vDicuci dengan 100 mL Aquadest pada dinding erlenmeyer

vDititrasi dengan Na₂S₂O₃

vDitambah dengan 2 mL laturan Amilum

vDititrasi kembali

vDibuat hal yang sama untuk blanko

 

 

ØKeduanya larut dan tidak berwarna

 ØLarutan berubah menjadi warna merah pekat

ØLarutan tetap berwarna merah pekat

ØLarutan menjadi warna kuning dan ada iod terbentuk di dasar erlenmeyer (13,8 mL)

ØLarutan menjadi warna biru pekat

ØLarutan menjadi tidak berwarna dan ada iod di dasar erlenmeyer (18,1 mL)

Ø - pada titrasi awal 15 mL

-pada titrasi akhir 20,1 mL

 B. Reaksi- Reaksi

1. Uji kelarutan lemak/minyak

 

C2H5OC2H3(L) (Tidak berwarna) + (RCOO)3C3H5(kuning)  à  Larutan homogen (Tidak berwarna)

 

CHCl3(L) (Tidak berwarna) + (RCOO)3C3H5(Kuning)  à  Larutan homogeny (tidak berwarna)

 

C2H5OH(L) (Tidak berwarna) + (RCOO)3C3H5 (Kuning)  à  Tidak larut (dua lapisan) (Tidak berwarna)

 

Ketiganya tidak terjadi pembentukan senyawa baru hanya pelarutan saja

 

2. Uji penentuan bilangan iodium

 

R(COO)3C3H5 (Kuning)  + CHCl3(L) (Tidak berwarna)  à  Larutan homogen

 

R(COO)3C3H5 (Kuning)  + 3 ICI  à  R(COOICI)3C3H5

 

ICI + KI(L)   à  KCl + I2

 

I2 + 2 Na2S2O3  à  2 NaI + Na2S2O3

 

I2 + (C6H10O5)  à  Kompleks biru


C. Perhitungan




V. Pembahasan

1. Uji Kelarutan Lemak/Minyak

      Definisi lipid didasarkan pada kelarutan. Lipid merupakan senyawa yang sulit larut dalam air, namun mudah larut dalam pelarut organik seperti kloroform atau aseton. Dalam hal kelarutan ini, lemak dan minyak termasuk jenis lipid yang khas. Lipid adalah campuran senyawa yang memiliki kesamaan struktur, terutama karena keberadaan gugus non-polar yang dominan. Jika diklasifikasikan berdasarkan sifat kimianya, lipid dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. Kelompok pertama terdiri atas senyawa dengan rantai terbuka yang memiliki gugus kepala bersifat polar dan ekor bersifat non-polar. Contoh senyawa dalam kelompok ini adalah asam lemak, trigliserida, sphingolipid, fosfoasilgliserol, dan glikolipid.

  2. Kelompok kedua terdiri atas senyawa dengan struktur cincin menyatu (fused ring), seperti steroid. Contoh senyawa dari kelompok ini adalah kolesterol. Lemak dan minyak merupakan jenis lipid khas yang dikelompokkan ke dalam kelompok pertama, yaitu lipid rantai terbuka yang terdiri atas gugus kepala polar dan ekor non-polar, seperti asam lemak dan trigliserida. (Sumbono, 2019).

     Kelarutan minyak dijelaskan dengan prinsip kimia "like dissolves like," yang berarti senyawa non-polar, seperti minyak, hanya larut dalam pelarut non-polar atau sedikit polar, seperti eter dan kloroform. Sebaliknya, minyak tidak larut dalam pelarut polar seperti alkohol, karena perbedaan sifat kepolaran antara minyak (non-polar) dan alkohol (polar)  (Nurdianti dkk., 2022)

    Dalam percobaan, minyak diuji kelarutannya dengan tiga jenis pelarut: eter, kloroform, dan alkohol. Minyak, yang tergolong lipid non-polar dan termasuk dalam kelompok lipid rantai terbuka, larut dalam pelarut non-polar (eter dan kloroform) dan tidak larut dalam pelarut polar (alkohol). Ini menguatkan bahwa minyak adalah senyawa non-polar yang mengikuti prinsip kelarutan "like dissolves like". Hal ini membuktikan bahwa sifat non-polar minyak memungkinkan larut dalam pelarut non-polar seperti eter dan kloroform, sementara ketidaklarutannya dalam alkohol mengonfirmasi perbedaan kepolaran antara minyak dan alkohol.

    Korelasi antara teori dan praktikum terlihat jelas. Hasil percobaan mendukung teori "like dissolves like," di mana minyak (non-polar) larut dengan baik dalam pelarut non-polar (eter dan kloroform), tetapi tidak larut dalam alkohol yang bersifat polar. Oleh karena itu, teori mengenai kelarutan berdasarkan kepolaran senyawa sejalan dengan hasil praktikum yang menunjukkan bahwa minyak larut dalam pelarut yang memiliki sifat kepolaran yang serupa.

2. Penentuan Bilangan Iodium

    Bilangan iodium adalah ukuran jumlah gram iodium (I₂) yang dapat diserap oleh 100 gram minyak atau lemak. Bilangan ini menggambarkan tingkat ketidakjenuhan minyak karena iodium bereaksi dengan ikatan rangkap (C=C) dalam asam lemak tak jenuh.  (Hasrini dan wardayanie, 2020).

    Bilangan iodin mencerminkan ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak dan lemak. Maka dapat disimpulkan bahwa bilangan iodium yang tinggi menunjukkan bahwa minyak tersebut mengandung asam lemak tak jenuh yang besar. (Pandiangan dkk., 2021).

    Dalam praktikum penentuan bilangan iodium, sebanyak 0,25 mL minyak kelapa sawit ditambahkan ke dalam 10 mL pelarut kloroform (CHCl₃). Penambahan kloroform bertujuan untuk melarutkan minyak secara merata karena kloroform bersifat non-polar, sehingga dapat melarutkan lemak dan memungkinkan ikatan rangkap (C=C) dalam asam lemak tidak jenuh terbuka dan siap bereaksi. Setelah minyak larut, sebanyak 25 mL larutan iod hanus (yang mengandung ICl dalam pelarut asam asetat glasial) ditambahkan ke dalam campuran. Larutan iod hanus merupakan oksidator kuat yang akan bereaksi secara adisi dengan ikatan rangkap pada asam lemak tak jenuh dalam minyak. Campuran tersebut kemudian didiamkan selama 30 menit dalam ruang gelap untuk mencegah dekomposisi atau penguraian iodium oleh cahaya. Proses ini juga memastikan bahwa reaksi antara ICl dan ikatan rangkap berlangsung maksimal tanpa gangguan dari cahaya. Setelah didiamkan di ruang gelap selama 30 menit, 10 mL larutan kalium iodida (KI) 15% ditambahkan ke dalam campuran. Tujuan penambahan KI adalah untuk mereduksi sisa ICl yang tidak bereaksi menjadi I₂ (iod elementer), yang selanjutnya akan dititrasi. Setelah itu, campuran dicuci dengan 100 mL aquadest yang ditambahkan melalui dinding Erlenmeyer. Pencucian ini bertujuan untuk membilas iodium yang mungkin menempel di bagian atas atau tutup Erlenmeyer agar seluruh iodium terkumpul dalam larutan dan dapat dititrasi secara menyeluruh. Larutan kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat (Na₂S₂O₃) 0,1 N hingga warna merah pekat dari larutan berubah menjadi kuning, yang menandakan sebagian besar iodium telah bereaksi. Setelah itu, 2 mL larutan amilum 1% ditambahkan sebagai indikator. Amilum membentuk kompleks dengan iodium bebas dan menghasilkan warna biru tua. Titrasi dilanjutkan hingga warna biru tersebut menghilang, menunjukkan bahwa semua iodium bebas telah bereaksi dengan tiosulfat. Volume titrasi yang dicatat hingga titik akhir adalah 20,1 mL. Nilai ini digunakan untuk menghitung jumlah iodium yang tidak bereaksi dengan minyak, dan melalui pengurangan dengan volume blanko, didapatkan bilangan iodium yang mencerminkan tingkat ketidakjenuhan asam lemak dalam sampel minyak. Seluruh tahapan ini penting untuk memastikan bahwa bilangan iodium yang diperoleh akurat dan mencerminkan kualitas minyak yang diuji.   

 Hasil praktikum yang menunjukkan bilangan iodium rendah mengonfirmasi teori bahwa semakin rendah bilangan iodium, semakin sedikit ikatan rangkap dalam minyak, yang menandakan tingkat ketidakjenuhan yang rendah. Korelasi ini juga mencerminkan bahwa kualitas minyak yang diuji mengalami penurunan, karena minyak dengan bilangan iodium rendah menunjukkan kualitas yang kurang optimal.

Standar SNI:

    STANDAR MUTU SNI (Bilangan lod Kelapa Sawit) dari SNI 01-2901-2021 bilangan lod kelapa sawit ditetapkan berkisar 50-55 g 12/100 g. (Ariyani, dkk.,2021), berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan di dapatkan hasil yang masih tergolong baik digunakan dalam stantar SNI yaitu 11,28 g 12/0,225 g jadi jika dalam 100 g sudah bisah melampaui dari standar mutu SNI.

 VI. Kesimpulan

  1. Kelarutan Minyak Kelapa Sawit: Minyak kelapa sawit larut dalam pelarut non-polar seperti eter dan kloroform, namun tidak larut dalam pelarut polar seperti alkohol. Hal ini sesuai dengan prinsip "like dissolves like", di mana senyawa non-polar cenderung larut dalam pelarut non-polar. minyak larut dalam pelarut non-polar seperti eter dan kloroform, sementara dalam alkohol minyak tidak dapat larut.

  2. Hasil penentuan bilangan iodin menunjukkan nilai sebesar 11,28 g I₂/100 g minyak. berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan di dapatkan hasil yang masih tergolong baik digunakan dalam stantar SNI yaitu 11,28 g 12/0,225 g jadi jika dalam 100 g sudah bisah melampaui dari standar mutu SNI.

  3. Minyak jenuh dan tidak jenuh dapat dibedakan berdasarkan struktur kimia dan sifat-sifatnya.minyak jenuh memiliki struktur kimia yang berupa ikatan tunggal antara atom karbon,shingga menyakini lebih stabil dan kurang reaktif. Sedangkan minyak tak jenuh memiliki struktur berupa ikatan rangkap antara atom karbon hingga lebih

VII. Jawaban Pertanyaan Dan Tugas

1. Berdasarkan Uji Kelarutan Lipid yang Anda Lakukan 

a. Apakah ada perbedaan kelarutan lemak dan minyak?
Ya, terdapat perbedaan kelarutan antara lemak dan minyak. Lemak pada umumnya bersifat padat pada suhu ruang, sedangkan minyak bersifat cair. Karena perbedaan fisik ini, kelarutan lemak cenderung lebih rendah dibandingkan minyak dalam pelarut tertentu. Minyak lebih mudah larut terutama dalam pelarut organik non-polar, sedangkan lemak mungkin memerlukan pemanasan untuk larut sempurna.

b. Pelarut mana yang terbaik untuk lemak dan pelarut mana yang terbaik untuk minyak?
Pelarut terbaik untuk lemak adalah eter panas atau alkohol panas, karena suhu tinggi dapat membantu melarutkan lemak padat. Sedangkan pelarut terbaik untuk minyak adalah eter atau kloroform, karena sifat non-polar pelarut ini sesuai dengan karakter non-polar dari minyak, sehingga larut dengan baik (mengikuti prinsip "like dissolves like").

c. Mana lebih baik digunakan alkohol panas atau alkohol dingin pada percobaan tersebut, jelaskan?
Alkohol panas lebih baik digunakan daripada alkohol dingin dalam percobaan ini. Hal ini karena pemanasan dapat meningkatkan kelarutan zat, terutama lemak yang memiliki titik leleh lebih tinggi. Alkohol dingin cenderung tidak efektif untuk melarutkan lipid karena suhu rendah memperlambat pergerakan molekul dan menurunkan kelarutan zat padat seperti lemak. Alkohol panas membantu memecah interaksi antar molekul lemak sehingga mempercepat proses pelarutan.

2. Tuliskan Reaksi Iodium Dengan Tiosulfat

I+ 2 Na2S2O3  à  2 NaI + Na2S2O3

3. Jelaskan kegunaan penentuan bilangan lodium dalam suatu sampel lemak/minyak

Penentuan bilangan iodium pada sampel lemak atau minyak bertujuan untuk mengetahui tingkat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung di dalamnya. Semakin tinggi bilangan iodium, semakin banyak ikatan rangkap dua yang dimiliki, menandakan lemak atau minyak tersebut lebih tidak jenuh. Informasi ini penting karena lemak tidak jenuh lebih mudah teroksidasi dan cepat tengik dibandingkan lemak jenuh. Selain itu, bilangan iodium juga berguna untuk mengidentifikasi jenis minyak, menilai kestabilan oksidatif, dan mendeteksi adanya pencampuran atau pemalsuan. Nilai ini sering digunakan dalam industri pangan, kosmetik, dan kimia untuk menentukan kualitas dan kegunaan minyak atau lemak dalam suatu produk.


DAFTAR PUSTAKA

Ariyani, S. B., Ratihwulan, H., & Asmawit, A. (2021). Kualitas produk virgin coconut oil (VCO) menggunakan teknik mekanik skala industri rumah tangga. Indonesian Journal of Industrial Research, 13(2), 133-142.

Fitriana, Y. A. N., & Fitri, A. S. (2019). Uji lipid pada minyak kelapa, margarin, dan gliserol. SAINTEKS, 16(1), 19–23.

Hasrini, R. F., & Wardayanie, N. I. A. (2022). Perbandingan karakteristik fisikokimia antara cocoa butter alternative (CBA) dengan lemak kakao untuk pengembangan Standar Nasional Indonesia. [Nama jurnal jika ada], 22 (3), 189–198.

Khafiza, S. R., Fadillah, R. M., Azis, A. G., Aliffia, N., Nuraisyah, S. H., Mulya Putri, N. A., Harefa, W. K., Nurlaela, R. S., & Hastuti, A. (2025). Karakteristik fisikokimia pada minyak dan lemak dari sumber nabati hewani. Karimah Tauhid, 2(4), 1587-1595. 

Nirwana, N. H. P., Sugiarto, A. T., Laili, I. N., Wulandari, P., Faizin, A. A. I., & Dzulkarnain, S. A. (2023). Peran lipid pada reseptor X hati (LXR). Indonesian Chemistry and Application Journal, 6(2), 1–10.

Nurdianti, L., Tajmalah, A., Ruswanto, & Setiawan, F. (2022). Optimasi dan karakterisasi nanoemulsi buah merah Papua (Pandanus conoileus) sebagai peningkat libido. Journal of Plaarmacopolium5(3), 262–268.

Pandiangan, M., Panjaitan, D., & Bangun, A. D. (2021). Analisis kandungan asam lemak pada minyak ikan belut. Jurnal Riset Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (RETIPA), 2(1), 102–109.

Siregar, F. A., & Makmur, T. (2020). Metabolisme lipid dalam tubuh. Jurnal Inovasi Kesehatan Masyarakat, 1(2), 60–66.

Sumbono, A. (2019). Biomolekul. Yogyakarta: Deepublish.

Suherman, M., Maliza, R., Syahbanu, F., Supardan, A. D., Rita, R. S., Arisanty, D., Minarsih, T., Yerizel, E., Amrinanto, A. H., Handito, D., & Jati, M. A. S. (2024). Analisis zat gizi pangan: Teori dan praktik. Purbalingga: Eureka Media Aksara.

DOKUMENTASI

Dokumentasi Praktikum Uji Lipid dan Penentuan Bilangan Iodium

 

 

Alat dan Bahan


 

1. Uji Kelarutan Minyak Sawit

 

1. dimasukkan 2 mL kloroform, eter dan etanol ke dalam 3 buah tabung reaksi.

 

2. dimasukkan 10 tetes minyak sawit ke dalam masing-masing tabung reaksi.

3. digojok tabung reaksi dan diperhatikan kelarutannya.

 


 

 

 

 

 

 

 

2. Penentuan Bilangan Iodium


1. diambil 0,25 mL minyak sawit dan masukkan ke dalam erlenmeyer.


 

 

 

2. ditambahkan 10 mL kloroform



 

 

 

3. ditambahkan 25 mL pereaksi iod Hanus dan didiamkan di tempat gelap selama 30 menit


 

 

 

4.  ditambahkan  10  mL larutan KI 15% dan 100 mL air untuk mencuci sisa iodium yg terdapat pd erlenmeyer.



5. di titrasi dengan larutan Na2S2O3 dan tambahkan larutan pati 1% sebagai indikator.


 


 

 

6.dititrasi kembali hingga warna biru hilang kemudian lanjutkan titrasi dengan blanko.


 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Reaksi Uji Lipid dan Penentuan Bilangan Iodium

I. Tujuan Percobaan               : 1. Mengetahui tingkat kelarutan minyak kelapa sawit dalam eter, kloroform, dan alkohol secara praktikum ...