I. Tujuan Percobaan :
1. Mengetahui tingkat kelarutan minyak kelapa sawit dalam eter, kloroform, dan alkohol secara praktikum
2. Mengetahui besarnya angka bilangan iodium pada sampel minyak kelapa sawit
3. Mengetahui perbedaan jenuh dan tidaknya minyak sawit
II. Pendahuluan :
Lipid adalah unsur makanan yang penting tidak hanya karena nilai energinya yang tinggi tetapi juga karena vitamin yang larut dalam bentuk lemak essensial yang dikandung dalam lemak makanan alam. Dalam tubuh, lemak berfungsi sebagai sumber energi efisien secara langsung dan secara potensial, bila disimpan dalam jaringan adiposa. Lipid berfungsi sebagai penyekat panas dalam jaringan subkutan dan sekeliling gorgan tertentu dan bekerja sebagai penyekat listrik (electrical insulator) yang memungkinkan perambatan cepat gelombang depolarisasi sepanjang syaraf bermielin. (Siregar dan makmur, 2020)
Lipid
Lemak dan Minyak
Bilangan Iodium
III. Metode Penelitian :
Penelitian dilakukan pada April 2025 di Laboratorium Kimia, Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Medan (UNIMED).
A. ALAT DAN BAHAN
NO. | NAMA ALAT | UKURAN | JUMLAH |
1 | Tabung Reaksi | - | 3 Buah |
2 | Rak Tabung Reaksi | - | 1 Buah |
3 | Pipet Tetes | - | 5 Buah |
4 | Beaker Glass | 250 mL | 1 Buah |
5 | Buret | 50 mL | 1 Buah |
6 | Erlenmeyer | 250 mL | 2 Buah |
7 | Statif dan Klem | - | 1 Pasang |
8 | Gelas Ukur | 25 mL | 1 Buah |
NO | NAMA BAHAN | RUMUS KIMIA | KONSENTRASI | WUJUD | WARNA | JUMLAH |
1 | Minyak Sawit | C5H5(OCOR)3 | - | Cair | Kuning | 35 Tetes |
2 | Larutan Natrium Tiosulfat | Na2S2O3 | 0,1 N | Cair | Tidak Berwarna | 38,2 mL |
3 | Larutan Pati | (C6H10O5)n | 1 % | Cair | Tidak Berwarna | 4 mL |
4 | Larutan Kalium Iodida | KI | 15 % | Cair | Tidak Berwarna | 20 mL |
5 | Pereaksi Iod Hanus | IBr (CH3COOH) | - | Cair | Merah Kecoklatan | 50 mL |
6 | Aquades | H2O | - | Cair | Tidak Berwarna | 200 mL |
7 | Kloroform | CHCl3 | - | Cair | Tidak Berwarna | 22 mL |
8 | Eter | R-O-R | - | Cair | Tidak Berwarna | 2 mL |
9 | Alkohol (Etanol) | C2H5OH | - | Cair | Tidak Berwarna | 2 mL |
Uji Kelarutan Lemak atau Minyak:
1. Dimasukkan berturut-turut 2 mL eter, kloroform, dan alkohol ke dalam 3 buah tabung reaksi.
2. Dimasukkan sedikit minyak sawit ke dalam setiap tabung reaksi, dikocok isi tabung kuat-kuat, dan diperhatikan kelarutannya.
Penentuan Bilangan Iodium:
1. Ditambahkan 10 mL kloroform, kocok hingga larut.
2. Ditambahkan 25 mL pereaksi iothanus dan didiamkan di tempat gelap selama 30 menit.
3. Ditambahkan 10 mL larutan KI 15%, aduk hingga rata.
4. Ditambahkan 100 mL air dingin untuk mencuci sisa iodium yang terdapat pada tutup Erlenmeyer.
5. Dititrasi iodiumnya dengan larutan Na₂S₂O₃ 0,1 N hingga warna kuning dari larutan hilang.
6. Ditambahkan 2 mL larutan pati 1% sebagai indikator, dengan segera diteruskan titrasi sampai warna biru hilang.
7. Ditutup Erlenmeyer jika titik akhir titrasi hampir tercapai dan dikocok kuat-kuat hingga semua iodium dapat diikat oleh KI.
8. Diteruskan titrasi sampai tercapai titik akhir. Dilakukan titrasi untuk blanko dengan cara yang sama seperti di atas. Ditentukan bilangan iodium dari sampel yang diuji.
IV. Hasil Pengamatan
A. Tabel Hasil Pengamatan
PERLAKUAN
| HASIL |
1. Uji Kelarutan Lemak/Minyak
vDiambil 2 mL Eter, Kloroform, dan Alkohol masukkan ke dalam masing masing tabung reaksi vDitambahkan sampel minyak ke dalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 10 tetes vKemudian dikocok dan dilihat kelarutannya | Ø2 mL eter + 10 tetes sampel minyak (larut) Ø2 mL kloroform + 10 tetes sampel minyak (larut) Ø2 mL alkohol + 10 tetes sampel minyak (tidak larut) |
2. Penentuan Bilangan Iod v0,25 mL sampel minyak sawit + 10 mL CHCl₃ vLarutan ditambah 25 mL Pereaksi iod.Hanus didiamkan selama 30menit diruang gelap vDitambah lgi dengan Ki 15% vDicuci dengan 100 mL Aquadest pada dinding erlenmeyer vDititrasi dengan Na₂S₂O₃ vDitambah dengan 2 mL laturan Amilum vDititrasi kembali vDibuat hal yang sama untuk blanko | ØKeduanya larut dan tidak berwarna ØLarutan tetap berwarna merah pekat ØLarutan menjadi warna kuning dan ada iod terbentuk di dasar erlenmeyer (13,8 mL) ØLarutan menjadi warna biru pekat ØLarutan menjadi tidak berwarna dan ada iod di dasar erlenmeyer (18,1 mL) Ø - pada titrasi awal 15 mL -pada titrasi akhir 20,1 mL |
B. Reaksi- Reaksi
1. Uji kelarutan lemak/minyak
C2H5OC2H3(L) (Tidak berwarna) + (RCOO)3C3H5(kuning) à Larutan homogen (Tidak berwarna)
CHCl3(L) (Tidak berwarna) + (RCOO)3C3H5(Kuning) à Larutan homogeny (tidak berwarna)
C2H5OH(L) (Tidak berwarna) + (RCOO)3C3H5 (Kuning) à Tidak larut (dua lapisan) (Tidak berwarna)
Ketiganya tidak terjadi pembentukan senyawa baru hanya pelarutan saja
2. Uji penentuan bilangan iodium
R(COO)3C3H5 (Kuning) + CHCl3(L) (Tidak berwarna) à Larutan homogen
R(COO)3C3H5 (Kuning) + 3 ICI à R(COOICI)3C3H5
ICI + KI(L) à KCl + I2
I2 + 2 Na2S2O3 à 2 NaI + Na2S2O3
I2 + (C6H10O5) à Kompleks biru
C. Perhitungan
V. Pembahasan
1. Uji Kelarutan Lemak/Minyak
Definisi lipid didasarkan pada kelarutan. Lipid merupakan senyawa yang sulit larut dalam air, namun mudah larut dalam pelarut organik seperti kloroform atau aseton. Dalam hal kelarutan ini, lemak dan minyak termasuk jenis lipid yang khas. Lipid adalah campuran senyawa yang memiliki kesamaan struktur, terutama karena keberadaan gugus non-polar yang dominan. Jika diklasifikasikan berdasarkan sifat kimianya, lipid dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
-
Kelompok pertama terdiri atas senyawa dengan rantai terbuka yang memiliki gugus kepala bersifat polar dan ekor bersifat non-polar. Contoh senyawa dalam kelompok ini adalah asam lemak, trigliserida, sphingolipid, fosfoasilgliserol, dan glikolipid.
-
Kelompok kedua terdiri atas senyawa dengan struktur cincin menyatu (fused ring), seperti steroid. Contoh senyawa dari kelompok ini adalah kolesterol. Lemak dan minyak merupakan jenis lipid khas yang dikelompokkan ke dalam kelompok pertama, yaitu lipid rantai terbuka yang terdiri atas gugus kepala polar dan ekor non-polar, seperti asam lemak dan trigliserida. (Sumbono, 2019).
Kelarutan minyak dijelaskan dengan prinsip kimia "like dissolves like," yang berarti senyawa non-polar, seperti minyak, hanya larut dalam pelarut non-polar atau sedikit polar, seperti eter dan kloroform. Sebaliknya, minyak tidak larut dalam pelarut polar seperti alkohol, karena perbedaan sifat kepolaran antara minyak (non-polar) dan alkohol (polar) (Nurdianti dkk., 2022)
Dalam percobaan, minyak diuji kelarutannya dengan tiga jenis pelarut: eter, kloroform, dan alkohol. Minyak, yang tergolong lipid non-polar dan termasuk dalam kelompok lipid rantai terbuka, larut dalam pelarut non-polar (eter dan kloroform) dan tidak larut dalam pelarut polar (alkohol). Ini menguatkan bahwa minyak adalah senyawa non-polar yang mengikuti prinsip kelarutan "like dissolves like". Hal ini membuktikan bahwa sifat non-polar minyak memungkinkan larut dalam pelarut non-polar seperti eter dan kloroform, sementara ketidaklarutannya dalam alkohol mengonfirmasi perbedaan kepolaran antara minyak dan alkohol.
Korelasi antara teori dan praktikum terlihat jelas. Hasil percobaan mendukung teori "like dissolves like," di mana minyak (non-polar) larut dengan baik dalam pelarut non-polar (eter dan kloroform), tetapi tidak larut dalam alkohol yang bersifat polar. Oleh karena itu, teori mengenai kelarutan berdasarkan kepolaran senyawa sejalan dengan hasil praktikum yang menunjukkan bahwa minyak larut dalam pelarut yang memiliki sifat kepolaran yang serupa.
2. Penentuan Bilangan Iodium
Bilangan iodium adalah ukuran jumlah gram iodium (I₂) yang dapat diserap oleh 100 gram minyak atau lemak. Bilangan ini menggambarkan tingkat ketidakjenuhan minyak karena iodium bereaksi dengan ikatan rangkap (C=C) dalam asam lemak tak jenuh. (Hasrini dan wardayanie, 2020).
Bilangan iodin mencerminkan ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak dan lemak. Maka dapat disimpulkan bahwa bilangan iodium yang tinggi menunjukkan bahwa minyak tersebut mengandung asam lemak tak jenuh yang besar. (Pandiangan dkk., 2021).
Dalam praktikum penentuan bilangan iodium, sebanyak 0,25 mL minyak kelapa sawit ditambahkan ke dalam 10 mL pelarut kloroform (CHCl₃). Penambahan kloroform bertujuan untuk melarutkan minyak secara merata karena kloroform bersifat non-polar, sehingga dapat melarutkan lemak dan memungkinkan ikatan rangkap (C=C) dalam asam lemak tidak jenuh terbuka dan siap bereaksi. Setelah minyak larut, sebanyak 25 mL larutan iod hanus (yang mengandung ICl dalam pelarut asam asetat glasial) ditambahkan ke dalam campuran. Larutan iod hanus merupakan oksidator kuat yang akan bereaksi secara adisi dengan ikatan rangkap pada asam lemak tak jenuh dalam minyak. Campuran tersebut kemudian didiamkan selama 30 menit dalam ruang gelap untuk mencegah dekomposisi atau penguraian iodium oleh cahaya. Proses ini juga memastikan bahwa reaksi antara ICl dan ikatan rangkap berlangsung maksimal tanpa gangguan dari cahaya. Setelah didiamkan di ruang gelap selama 30 menit, 10 mL larutan kalium iodida (KI) 15% ditambahkan ke dalam campuran. Tujuan penambahan KI adalah untuk mereduksi sisa ICl yang tidak bereaksi menjadi I₂ (iod elementer), yang selanjutnya akan dititrasi. Setelah itu, campuran dicuci dengan 100 mL aquadest yang ditambahkan melalui dinding Erlenmeyer. Pencucian ini bertujuan untuk membilas iodium yang mungkin menempel di bagian atas atau tutup Erlenmeyer agar seluruh iodium terkumpul dalam larutan dan dapat dititrasi secara menyeluruh. Larutan kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat (Na₂S₂O₃) 0,1 N hingga warna merah pekat dari larutan berubah menjadi kuning, yang menandakan sebagian besar iodium telah bereaksi. Setelah itu, 2 mL larutan amilum 1% ditambahkan sebagai indikator. Amilum membentuk kompleks dengan iodium bebas dan menghasilkan warna biru tua. Titrasi dilanjutkan hingga warna biru tersebut menghilang, menunjukkan bahwa semua iodium bebas telah bereaksi dengan tiosulfat. Volume titrasi yang dicatat hingga titik akhir adalah 20,1 mL. Nilai ini digunakan untuk menghitung jumlah iodium yang tidak bereaksi dengan minyak, dan melalui pengurangan dengan volume blanko, didapatkan bilangan iodium yang mencerminkan tingkat ketidakjenuhan asam lemak dalam sampel minyak. Seluruh tahapan ini penting untuk memastikan bahwa bilangan iodium yang diperoleh akurat dan mencerminkan kualitas minyak yang diuji.
Hasil praktikum yang menunjukkan bilangan iodium rendah mengonfirmasi teori bahwa semakin rendah bilangan iodium, semakin sedikit ikatan rangkap dalam minyak, yang menandakan tingkat ketidakjenuhan yang rendah. Korelasi ini juga mencerminkan bahwa kualitas minyak yang diuji mengalami penurunan, karena minyak dengan bilangan iodium rendah menunjukkan kualitas yang kurang optimal.
Standar SNI:
STANDAR MUTU SNI (Bilangan lod Kelapa Sawit) dari SNI 01-2901-2021 bilangan lod kelapa sawit ditetapkan berkisar 50-55 g 12/100 g. (Ariyani, dkk.,2021), berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan di dapatkan hasil yang masih tergolong baik digunakan dalam stantar SNI yaitu 11,28 g 12/0,225 g jadi jika dalam 100 g sudah bisah melampaui dari standar mutu SNI.
VI. Kesimpulan
-
Kelarutan Minyak Kelapa Sawit: Minyak kelapa sawit larut dalam pelarut non-polar seperti eter dan kloroform, namun tidak larut dalam pelarut polar seperti alkohol. Hal ini sesuai dengan prinsip "like dissolves like", di mana senyawa non-polar cenderung larut dalam pelarut non-polar. minyak larut dalam pelarut non-polar seperti eter dan kloroform, sementara dalam alkohol minyak tidak dapat larut.
-
Hasil penentuan bilangan iodin menunjukkan nilai sebesar 11,28 g I₂/100 g minyak. berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan di dapatkan hasil yang masih tergolong baik digunakan dalam stantar SNI yaitu 11,28 g 12/0,225 g jadi jika dalam 100 g sudah bisah melampaui dari standar mutu SNI.
Minyak jenuh dan tidak jenuh dapat dibedakan berdasarkan struktur kimia dan sifat-sifatnya.minyak jenuh memiliki struktur kimia yang berupa ikatan tunggal antara atom karbon,shingga menyakini lebih stabil dan kurang reaktif. Sedangkan minyak tak jenuh memiliki struktur berupa ikatan rangkap antara atom karbon hingga lebih
VII. Jawaban Pertanyaan Dan Tugas
a. Apakah ada perbedaan kelarutan lemak dan minyak?
Ya, terdapat perbedaan kelarutan antara lemak dan minyak. Lemak pada umumnya bersifat padat pada suhu ruang, sedangkan minyak bersifat cair. Karena perbedaan fisik ini, kelarutan lemak cenderung lebih rendah dibandingkan minyak dalam pelarut tertentu. Minyak lebih mudah larut terutama dalam pelarut organik non-polar, sedangkan lemak mungkin memerlukan pemanasan untuk larut sempurna.
b. Pelarut mana yang terbaik untuk lemak dan pelarut mana yang terbaik untuk minyak?
Pelarut terbaik untuk lemak adalah eter panas atau alkohol panas, karena suhu tinggi dapat membantu melarutkan lemak padat. Sedangkan pelarut terbaik untuk minyak adalah eter atau kloroform, karena sifat non-polar pelarut ini sesuai dengan karakter non-polar dari minyak, sehingga larut dengan baik (mengikuti prinsip "like dissolves like").
c. Mana lebih baik digunakan alkohol panas atau alkohol dingin pada percobaan tersebut, jelaskan?
Alkohol panas lebih baik digunakan daripada alkohol dingin dalam percobaan ini. Hal ini karena pemanasan dapat meningkatkan kelarutan zat, terutama lemak yang memiliki titik leleh lebih tinggi. Alkohol dingin cenderung tidak efektif untuk melarutkan lipid karena suhu rendah memperlambat pergerakan molekul dan menurunkan kelarutan zat padat seperti lemak. Alkohol panas membantu memecah interaksi antar molekul lemak sehingga mempercepat proses pelarutan.
2. Tuliskan Reaksi Iodium Dengan Tiosulfat
I2 + 2 Na2S2O3 à 2 NaI + Na2S2O3
3. Jelaskan kegunaan penentuan bilangan lodium dalam suatu sampel lemak/minyak
Penentuan bilangan iodium pada sampel lemak atau minyak bertujuan untuk mengetahui tingkat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung di dalamnya. Semakin tinggi bilangan iodium, semakin banyak ikatan rangkap dua yang dimiliki, menandakan lemak atau minyak tersebut lebih tidak jenuh. Informasi ini penting karena lemak tidak jenuh lebih mudah teroksidasi dan cepat tengik dibandingkan lemak jenuh. Selain itu, bilangan iodium juga berguna untuk mengidentifikasi jenis minyak, menilai kestabilan oksidatif, dan mendeteksi adanya pencampuran atau pemalsuan. Nilai ini sering digunakan dalam industri pangan, kosmetik, dan kimia untuk menentukan kualitas dan kegunaan minyak atau lemak dalam suatu produk.
DAFTAR PUSTAKA
Hasrini, R. F., & Wardayanie, N. I. A. (2022). Perbandingan karakteristik fisikokimia antara cocoa butter alternative (CBA) dengan lemak kakao untuk pengembangan Standar Nasional Indonesia. [Nama jurnal jika ada], 22 (3), 189–198.
Khafiza, S. R., Fadillah, R. M., Azis, A. G., Aliffia, N., Nuraisyah, S. H., Mulya Putri, N. A., Harefa, W. K., Nurlaela, R. S., & Hastuti, A. (2025). Karakteristik fisikokimia pada minyak dan lemak dari sumber nabati hewani. Karimah Tauhid, 2(4), 1587-1595.
Nirwana, N. H. P., Sugiarto, A. T., Laili, I. N., Wulandari, P., Faizin, A. A. I., & Dzulkarnain, S. A. (2023). Peran lipid pada reseptor X hati (LXR). Indonesian Chemistry and Application Journal, 6(2), 1–10.
Pandiangan, M., Panjaitan, D., & Bangun, A. D. (2021). Analisis kandungan asam lemak pada minyak ikan belut. Jurnal Riset Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (RETIPA), 2(1), 102–109.
Sumbono, A. (2019). Biomolekul. Yogyakarta: Deepublish.
Suherman, M., Maliza, R., Syahbanu, F., Supardan, A. D., Rita, R. S., Arisanty, D., Minarsih, T., Yerizel, E., Amrinanto, A. H., Handito, D., & Jati, M. A. S. (2024). Analisis zat gizi pangan: Teori dan praktik. Purbalingga: Eureka Media Aksara.
DOKUMENTASI
Dokumentasi Praktikum Uji Lipid dan Penentuan Bilangan Iodium
Alat dan Bahan
1. Uji Kelarutan Minyak Sawit
1. dimasukkan 2 mL kloroform, eter dan etanol ke dalam 3 buah tabung reaksi. | 2. dimasukkan 10 tetes minyak sawit ke dalam masing-masing tabung reaksi. | 3. digojok tabung reaksi dan diperhatikan kelarutannya. |
2. Penentuan Bilangan Iodium
1. diambil 0,25 mL minyak sawit dan masukkan ke dalam erlenmeyer. | 2. ditambahkan 10 mL kloroform | 3. ditambahkan 25 mL pereaksi iod Hanus dan didiamkan di tempat gelap selama 30 menit |
4. ditambahkan 10 mL larutan KI 15% dan 100 mL air untuk mencuci sisa iodium yg terdapat pd erlenmeyer. | 5. di titrasi dengan larutan Na2S2O3 dan tambahkan larutan pati 1% sebagai indikator. | 6.dititrasi kembali hingga warna biru hilang kemudian lanjutkan titrasi dengan blanko. |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar